Give comment to this article !
email this post
print this post


Takakura

Category : Environment, Capacity Building, Urban Development
Posted : May 9th, 2007 by Togar Silaban and 2,274 Views so far.

Dewasa ini pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang “sakti” Takakura. Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Yang menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.

Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam keranjang sakti Takakura. Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga.

Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji TAKAKURA dari Jepang. Mr. Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistim pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekererja mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang “memakan” sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam pelaksanaan penelitiannya, Mr. Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering. Jenis bakteri yang deikembang biakkan oleh Takakura inilah yang kemudian dijadikan starter kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang disebut “Takakura Home Method” yang dilingkungan masyarakat lebih dikenal dengan nama keranjang sakti Takakura.

Selain Sistim Takakura Home Method, Mr. Takakura juga menemukan bentuk-bentuk lain ada yang berbentuk “Takakura Susun Method”, atau modifikasi yang berbentuk tas atau kontainer. Penelitian lain yang dilakukan Takakura adalah pengolahan sampah pasar menjadi kompos. Akan tetapi Takakura Home Method adalah sistim pengomposan yang paling dikenal dan disukai masyarakat karena kepraktisannya.

Mr. Takakura, melakukan penelitian di Surabaya sebagai bagian dari kerjasama antara Kota Surabaya dan Kota Kitakyushu di Jepang. Kerjasama antar kedua kota difokuskan pada pengelolaan lingkungan hidup. Kota Kitakyushu terkenal sebagai kota yang sangat berhasil dalam pengelolaan lingkungan hidup. Keberhasilan kota Kitakyushu sudah diakui secara internasional. Karena keberhasilan kota Kitakyushu itulah kota Surabaya melakukan kerjasama pengelolaan lingkungan hidup. Bentuk kerjasama berupa pemberian bantuan teknis kepada kota Surabaya.

Bantuan teknis yang diberikan Pemerintah Jepang adalah dengan menugaskan sejumlah tenaga ahli untuk melakukan penelitian tentang pengolahan sampah yang paling sesuai dengan kondisi Surabaya. Mr. Takakura adalah salah satu ahli yang ditugaskan itu. Sehari-harinya Mr. Takakura bekerja di perusahaan JPec, anak perusahaan dari J-Power Group. Suatu perusahaan yang sesungguhnya bergerak di bidang pengelolaan energi. Mr. Takakura adalah expert yang mengkhususkan diri dalam riset mencari energi alternatif.

Kerjasama Kitakyushu-Surabaya untuk mengelola sampah dimulai dari tahun 2001 sampai 2006. Takakura menjadi peneliti kompos selama kerjasama tersebut sekaligus sebagai ahli pemberdayaan masyarakat. Selama itu Takakura dan timnya secara berkala datang ke Surabaya untuk melakukan penelitian dan melaksanakan hasil penelitian itu. Kadang-kadang Takakura datang ke Surabaya sampai enam kali dalam setahun. Selama penelitian kompos biasanya bisa mencapai 3 minggu ia harus mengamati perkembangan bakteri kompos. Yang unik dari Mr. Takakura adalah bahwa selama ia berada di Surabaya ia senantiasa memakai baju batik. Padahal dalam keadaan sehari-harinya di Jepang, biasanya Mr. Takakura memakai setelan jas lengkap ke kantor sebagaimana orang Jepang lainnya.

Sumbangsih Mr. Takakura terhadap upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Surabaya sangatlah besar. Keberhasilan itu malah diapresiasi oleh lembaga internasional IGES (Institut for Global Environment and Strategy). Pada bulan Februari 2007, IGES mensponsori studi banding 10 kota dari 10 negara untuk melihat pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Surabaya. Kota-kota itu ingin mencontoh sistem pengomposan yang dikembangkan oleh Surabaya dengan bantuan Takakura Composting System.

Keberhasilan Mr. Takakura menemukan sistim kompos yang praktis tidak saja memberikan sumbangsih bagi teknologi penguraian sampah organik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengelolaan sampah berbasis komunitas. Mr. Takakura jauh-jauh datang dari Jepang meneliti dan melakukan pengomposan di Surabaya. Kalau seseorang yang datang dari jauh, yang tadinya “saudara bukan, teman juga tidak” begitu peduli mengurangi sampah Surabaya. Apakah warga Surabaya sendiri tidak lebih peduli dengan sampahnya. Prinsip inilah yang terus dikembangkan di Surabaya. Dengan didukung oleh sejumlah tenaga sukarela (volunteer) termasuk MTV Surabaya, maka pengurangan sampah organik di sumbernya, kini sangat membanggakan Surabaya.


41 Comments to “Takakura”

  1. Charly Silaban

    Wah hebat Surabaya oppung yah bisa mendatangkan ahli dari jepang. Trus timbal balik Surabaya untuk Kitakyushu itu apa ?

    Ngomong2 tentang pengelolaan sampah organik, ada satu perusahaan juga dari Tj. Perak, Surabaya bernama “Kencana Online” yang mengusung produk2 dari BioPhosko. Mulai dari Komposter yang merupakan drum plastik untuk pengomposan sampah organik (aku rasa mirip dengan takakura ini) untuk pemakai rumahan dan malah.. mereka menggalakkan para enterpreuneur untuk mendirikan pusat pengolahan sampah organik untuk lingkungan Rt/RW/perumahan terlihat dari produk mereka seperti Komposter Rotary, Motor Berseka atau menyediakan paket komplit sesuai bisnis plan yang mereka ajukan disini.

    Nah bagaimana menurut oppung dengan produk jepang tadi.. ?

  2. Togar Silaban

    Setelah membaca Kencana Online, dan paket komplitnya (terutama), saya berkesimpulan, Komposter Takakura mempunyai keunggulan lebih dibanding Komposter “Kencana”.
    1. Pertama; biaya. Paket komplit Kencana untuk 76 KK dengan asumsi jumlah 5 orang per KK, harganya Rp. 46.000.000. Sementara Komposter Takakura untuk 5 orang per KK cukup 1 unit. Harga per unit Rp. 75.000. Kalau untuk 76 KK, maka biaya Komposter Takakura hanya Rp. 5.200.000. (Bedanya sangat jauh). Surabaya sedang berusaha menekan harga Komposter Takakura ini, karena biaya terbesar adalah untuk keranjangnya. (Keranjangnya saja harga di pasar sekitar Rp. 50.000)
    2.Kedua; Komposter Takakura bisa ditempatkan disetiap rumah seperti di dapur karena tidak berbau dan tidak ada cairan. Jadi tidak memerlukan ruang yang besar. Ukurannya kira-kira tinggi 60 cm, lebar 25 cm dan panjang kurang lebih 30 cm. Jadi kecil saja.
    3. Ketiga; Komposter Takakura dapat digunakan setiap hari, diperkirakan untuk KK dengan 5 jiwa, komposter itu baru penuh setelah 5-6 bulan (tiap hari dipakai non stop). Tidak diperlukan pemeliharaan yang khusus, hanya diaduk saja setiap menambahakan sampah baru.
    Sebenarnya masih banyak keunggulan Komposter Takakura, tapi rasanya perlu tulisan tersendiri. Kalau sudah mengenal komposter Takakura, rasanya orang akan mikir untuk pake Komposter yang lain.
    Yang paling penting juga adalah dengan penggunaan komposter Takakura, kegiatan memilah sampah menjadi kebiasaan sehari-hari. DAn ini luar biasa dampaknya kalau dilakukan oleh masyarakat perkotaan.

  3. Togar Silaban

    Ada yang kelupaan soal pertanyaan apa imbal balik yang diperoleh Kitakyushu atau oleh Mr. Takakura. Dari pengalaman saya selama ini bekerja dengan mereka, imbal balik secara langsung NYARIS TIDAK ADA. Mereka datang ke Surabaya dengan biaya sendiri untuk akomodasi dan transportasinya udara. Surabaya hanya menyediakan satu mobil kalau mereka sedang di Surabaya untuk dipakai transportasi dari hotel ke lapangan. Dalam 2 tahun terakhir 2005 dan 2006, Mr. Takakura lebih lama tinggal di Surabaya ketimbang di kampungnya di Jepang.
    Manfaat yang tidak langsung adalah bahwa mereka dapat nama (reputasi) yang baik karena membantu Surabaya dalam mengurangi persoalan Sampah. Untuk negara maju seperti Jepang, reputasi itu sangat penting dan tinggi nilainya. Kitakyushu memang sedang mengkampanyekan diri sebagai pelopor kota berkelanjutan kelas dunia.

  4. susyanto

    Beli keranjang takakura dimana ya? Saya tertarik untuk dipakai di rumah sendiri. Tolong beri informasi dimana saya dapat membelinya. Thx

  5. Togar Silaban

    Keranjang Takakura, saat ini tersedia di PUSDAKOTA UBAYA, Jalan Rungkut Lor III No. 87, Surabaya 60293.
    Telepon (031)- 847 4324, *47 4325, Fax (031)- 847 4324.
    atau bisa juga di www.pusdakota.org.
    Anda dapat membeli disana. Pembeli dari luar kota, tentu dengan tambahan ongkos kirim. Selengkapnya harap hubungi Pusdakota.

  6. Charly Silaban

    Trims jawabannya pung..!
    Kalau di Sby lagi menggalakkan Takakura, lain lagi di Bdg,
    Demo Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

    Gimana lagi nih pendapat oppung ?

  7. Swastika Andi

    Pak,
    Saya tertarik sekali dengan pengelolaan sampah skala rumah tangga ini. Boleh tahu cara membuat keranjang takakura ini secara manual?
    Terima kasih

  8. Togar Silaban

    Sesungguhnya membuatnya tidak sulit. Prinsipnya utamanya adalah bakteri aerobik bekerja menguraikan sampah. Untuk itu diperlukan pengembangan bakteri yang tidak menimbulkan bau dan menyerap cairan. Bakteri jenis ini diperoleh (kalau mau gampang ya beli starter kit yang ready), dengan mengembangkan bakteri yang berasal dari dedak (katul). Dedak dicampur dengan sampah organik lalu bakteri di biakkan pada temperatur tertentu sambil diberi oksigen yang cukup. Bila temperatur terlalu tinggi, ada kemungkinan bakteri mati, bila temperatur tidak cukup, bakteri tidak dapat menguraikan sampah organiknya.

    Kira-kira begitu penjelasan teknisnya. Nah untuk keranjangnya dibuat sedemikian rupa, dimana udara bisa masuk kedalam sampah, tapi temperatur juga bisa dipertahankan (umumnya temperatur ruangan), dan dihindarkan supaya binatang lain (lalat dll) tidak masuk. Kalau mau penjelasan detail hubungi Mas Broto Suwarso di Pusdakota Ubaya, Surabaya (seperti alamat di komen atas) atau petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya di Jl. Menur 32 Surabaya.

  9. Togar Silaban

    Maaf saya baru sadar belum menjawab pertanyaan dari comment no (6) dari Charly Silaban tgl 16 Mei tentang Pembangkit Listrik Tenaga Sampah.
    Berikut ini tanggapan saya.

    Prinsip utama energi adalah Hukum Termodinamika dimana pada suatu sistem, energi masuk sama dengan energi keluar. (ini pelajaran Fisika saya di Tingkat I kira-kira 30 tahun lalu, jadi kalau ada yang lupa harap maklum). Demikian juga kalau ada pembangkit listrik yang menggunakan sampah maka berarti energi yang digunakan untuk mendapatkan listrik, katakan lah 1 megawatt, sesungguhnya berasal dari bahan baku yang ekivalen dengan 1 megawatt. Jadi untuk mendapat 1 megawatt listrik, maka diperlukan bahan baku sampah perkotaan (plus bahan bakar),yang ekivalen 1 megawatt.

    Permasalahannya adalah apakah sampah perkotaan kita bisa mempunyai nilai kalor bakar yang tinggi sehingga bahan bakarnya = nol untuk mendapatkan energi ekivalen 1 megawatt. Bila sampah perkotaan kita didominasi oleh bahan organik, maka kadar airnya tinggi, artinya nilai kalor bakarnya rendah. Konsekuensinya dibutuhkan bahan bakar yang banyak untuk membakar sampah, supaya terjadi panas yang cukup menghasilkan uap untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik.
    (sampai disini penjelasannya sangat teknis ya).

    Dinegara-negara maju, dari pembakaran sampah (yang nilai kalor bakarnya tinggi), mereka memang mendapatkan hasil sampingan berupa energi listrik. Tapi itu adalah BONUS, bukan tujuannnya untuk membangkitkan listrik dari sampah.
    Intinya yang ingin saya sampaikan adalah bahwa pembangkit listrik tenaga sampah dengan pembakaran tidak ekonomis. Apalagi kalau sampah organik.
    Gas methan yang berasal dari proses dekomposisi sampah memang bisa juga menghasilkan listrik, itu proses lain lagi.
    Mau penjelasan detail lewat japri aja ya.

  10. imam

    thats a great discovery,

    may I know the address to get takakura box

    trims

  11. Togar Silaban

    As I explained to Mr. Susyanto (4), Takakura Home Method is now available at Pusdakota, Jalan Rungkut Lor III # 87 Surabaya. See also www.pusdakota.org.

  12. deccy

    apa beda pengomposan metode takakura dengan metode pengomposan lainnya yang sama2 menggunakan kotak dan EM4???

  13. Togar Silaban

    Takakura tidak dikembangkan dengan menggunakan bakteri EM4. Pada waktu risetnya Pak Takakura membiakkan bakteri sendiri. Mungkin saja bakterinya ada persamaan dengan EM4 (yang ini saya terus terang tidak tau persis). Yang jelas keunggulan Takakura adalah tidak berbau, tidak ada cairan, tidak ada ulat (belatung). Jadi bisa dikemas bersih. Menurut saya ini keunggulan mendasar dari Takakura.
    Saya kurang tau bagaimana performance pengomposan dengan EM4. Saya tau Takakura, selain karena melihat dan mendapat penjelasan dari Mr. Takakura, saya juga punya satu unit di rumah.

  14. dini ak

    halo oppung, salam kenal
    browsing-browsing mencari takakura, dapet link kesini
    gak nyangka ternyata oppung itu senpai
    oppung 1986, saya 2002 :)
    nanti mo baca-baca lagi blognya..
    menarik sekali.

    btw, saya tertarik dg pemberdayaan masyarakat untuk pengelolaan sampah..
    bagaimana masyarakat di surabaya mau memakai Takakura

  15. Togar Silaban

    Salam kenal kembali, bisa tukar pendapat kepada yang muda yang bersemangat. Gimana ceritanya kok pake opung?.

    Pemberdayaan masyarakat untuk pengelolaan sampah?, wah itu susah-susah gampang, rasanya perlu berlembar-lembar untuk menulisnya. Tapi intinya komitmen dan kerjasama dengan banyak pihak. Tidak bisa cuma pemerintah saja. Peran LSM sangat besar, mereka punya kapasitas dan kemampuan yang baik untuk itu. Perlu ada penggerak yang terus menerus punya semangat tinggi.

    Pemberdayaan masayarakat untuk pengelolaan sampah mandiri ini akan kami perluas di Surabaya, sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi kriteria untuk masuk program Co-benefit CDM (clean development mechanism). Cita-cita kita dengan komposting di tingkat masyarakat, Surabaya bisa jual CER. Jalan ke arah itu sudah ada dan sudah kami mulai. Tapi tantangannya berat, karena harus bisa mencapai hampir 200.000 pengguna Takakura. Kira-kira gitu. Tapi kalau itu bisa tercapai, artinya CDM Excecutive Board di United Nations bisa approved, kemungkinan akan menjadi yang pertama di dunia untuk metode ini. Jadi sangat menantang ya. Mau bergabung ?

  16. dini ak

    hehe..maap, saya sotoy aja ikut2 manggilnya oppung..
    kalau tulang itu paman, saya kira oppung tuh pakde :D maap..

    wah terima kasih ajakannya, tapi mo beresin skripsi dulu nih :p

  17. Togar Silaban

    Ooops… … ya, oppung kan artinya eyang….
    Oh ya cepat-cepat beresin skripsinya, … pekerjaan banyak menunggu. Di luar sana permasalahan lingkungan menumpuk….

  18. Djatnika Soekarta

    Horas pak Togar,

    Kami mendengar mengenai keranjang Takakuta dari bu Sivi, Unilever Peduli. Saya sangat senang mendapatkan informasi menganai keranjang Takakura ini karena memecahkan salah satu masalah sampah rumah tangga. Lagi pula caranya sederhana dan fool-proof.

    Kami dari Rotary International District 3400 mempunyai program Waste Management. Jadi kami mau menggerakkan ibu rumah tangga untuk melakukan Zero Waste dengan cara 3R. Selain itu ada beberapa club yang mempunyai Rotary Community Corps, relawan2 diluar Rotary, yang bergerak dalam pembuatan pupuk organik dari sampah organik dan mendaur ulang sampah an-organik.

    Sementara itu seperti bapak ketahui sudah banyak kegiatan yang menangani, hanya mereka bergerak secara lokal. Jadi dampaknya masih kecil. Untuk itu saya mau mengajak bapak untuk bersama-sama menggalang kekuatan ini untuk menjadi satu kesatuan secara national. Jadi hasilnya akan dirasakan oleh masyarakat secara nyata.

    Kami mengunggu saran-saran dari bapak.

    Salam

    Djatnika Soekarta

  19. togar silaban

    Yth. Pak Djatnika Soekarta,
    Terimakasih,
    Saya kira kita bisa bahas lebih lanjut. Rotary 3400 itu dimana lokasinya pak. Kalau bapak tidak keberatan silahkan kontak saya.
    Togar Silaban

  20. Charly Silaban

    FYI: website rotary itu disini. Kebetulan saya dulu suka ikut kegiatan Rotary RC3400 Jakarta-Gambir melalui bendera KKS Pelita Hati dan melakukan project di area Teluk Naga - Tangerang, Banten.
    Dan sejauh pengamatan saya mr. Djatnika ini sangat concern terhadap masalah lingkungan hidup khususnya pengolahan sampah. Mudah2an terjalin kerjasama baik.. :)

  21. ria

    Nilai kalor sampah di Indonesia berapa ? Apa memang tidak memungkinkan untuk tenaga listrik ? Mengingat Indonesia sangat buaaanyak tumpukan sampahnya. Kalo hanya dibakar sajakan percuma juga. Apabila sampah dipadatkan, Nilai kalor sampah sebelum dan sesudah dipadatkan sama apa tidak ? Thanx commentnya

  22. Togar Silaban

    Kalau secara umum, rata-rata kandungan organik sampah perkotaan di Indonesia antara (70 - 85)%. Sampah perdesaan agak lebih tinggi lagi. Dari sejumlah sampah organik itu sebagian besar adalah sampah basah. Angka pastinya saya tidak punya.
    Ketika sampah ditempatkan di kotak/tempat didepan rumah, sampah didaur ulang oleh pemulung, dan yang diambil umumnya adalah kertas, kardus, kayu yang nilai kalor bakarnya paling tinggi. Di Tempat Penampungan Sementara (TPS), masih “didaur ulang” lagi oleh pemulung. Jadi yang tersisa adalah sampah basah yang kalor bakarnya rendah. Sesampainya di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) ada kemungkinan masih didaur ulang lagi oleh pemulung. Artinya kalor bakar sampah di TPA, sudah sangat rendah.
    Sampah di TPA sebagian besar sudah merupakan sampah basah yang kadar airnya tinggi. Kalau dibakar untuk mendapatkan energi, maka berarti akan diperlukan bahan bakar yang tinggi.
    Tinggal menghitung dengan Hukum Termodinamika, energi yang masuk sama dengan energi yang keluar. Kalau energi yang keluar harus bisa memutar turbin oleh uap panas, maka energi yang masuk bisa dihitung.

    Saya tidak yakin sampah perkotaan di Indonesia mempunyai nilai ekonomis untuk pembangkit listrik. Kalaupun BISA dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, itu adalah HASIL TAMBAHAN, bukan sebagai hasil utama. Hasil utamanya adalah pengurangan volume sampah.
    Secara umum pengelolaan sampah adalah COST CENTER bukan PROFIT CENTER.

  23. Gantini

    Saya pengguna komposter Bio Phoskko yang dibahas diatas, pertanyaan ad 1, tapi belinya bukan Rp 46.000.000,- namun hanya Rp 215.000 bagi kapasitas 60 liter dan jadi kompos hanya 15 hari. Bagaimana Opung bisa bandingkan juga Takakura dengan Komposter Bio Phoskko untuk kapasitas yang sama dengan Takakura? Rasanya lebih praktis dan yang penting cepat serta gak usah di balik2 seperti pada takakura ya ?

    Gantini-Banjarmasin

  24. Gantini

    Oh ya ada lupa, pada komposter takakura bagaimana dapat aktivatornya kan itu dalam keranjang ? apa bisa dipaket saja seperti bakteri buatan Indonesia ( green phoskko ) kan lebih praktis.

  25. Togar Silaban

    Saya belum pernah lihat komposter Bio Phoskko dan tidak tau spesifikasinya, jadi agak sulit bagi saya membandingkan dengan sesuatu yang tidak saya ketahui.
    Yang jelas komposter Takakura adalah komposter Aerobik, jadi mengaduk (membalik-balik) sangat penting karena 2 hal.
    Pertama, memastikan bakteri AEROBIK mendapat udara yang cukup, sehingga komposter berfungsi dengan baik.
    Kedua bila tidak diaduk, bisa jadi proses menjadi ANAEROBIK, kalau begini, maka akan timbul gas metan (gas rumah kaca), padahal salah satu tujuan penting kita adalah menghindari pembentukan gas metan yang menjadi penyebab timbulnya pemanasan global.
    Jadi agak menambah tenaga sedikit untuk mengaduk kan tidak apa toh (tidak terlalu sulit kok).

    Saya kira, bakteri bisa dikirim melalui paket. Nah ini aspek marketing Takakura yang kurang diperhatikan. Yang penting ada manual/petunjuk pengoperasiannya. Saya setuju kalau bisa didistribusikan dalam bentuk paket kecil, sehingga ongkos kirimnya menjadi lebih rendah.
    Selamat mencoba.

  26. hendra

    sebenarnya kotak takakura bisa diganti dengan kotak platik tempat pakaian kotor(yg ada lubangnya) atau dengan kardus bekas yang dilubagi kecil-kecil. saya sudah mempraktekannya di rumah.

  27. Togar Silaban

    @ Hendra
    Kotak Takakura bisa menggunakan keranjang seperti yang anda maksud.

  28. sunarya

    Saya tertarik untuk teknologi takakura, namun saya tinggal di Bandung.Jika ada seminar perihal teknologi takakura di Surabaya atau munkin di Bandung, mohon kami diundng melalui mail kami.

  29. latifah

    dear opung,
    saya tinggal di Tarakan, kaltim. Opung bisa panggil saya tifa. kami ditarakan sudah melakukan pengomposan dengan metode Takakura sudah 3 tahun terakhir ini, bahkan sekarang ini kami sudah memiliki satu area percontohan di wilayah Karang Anyar pantai RT 16. Masyarakat disana telah memilah sampahnya dan khusus sampah oraganik dijadikan kompos melalui keranjang takakura dan mereka amat antusias setelah memanen komposnya dan dijadikan pupuk untuk tanaman yang mereka miliki. Tanah di tarakan kurang bagus sehingga untuk menanam tumbuhan harus membeli Tanah terlebih dahulu, akan tetapi dengan adanya kompos takakura mereka tidak perlu membeli lagi. kita ingin sekali mengembangkan metode ini ke wilayah lain akan tetapi kita masih mempunyai masalah dana, dan ilmu mengeani Takakura yang masih minim., untuk itu apa opung dapat membantu jalan keluarnya bagi masyarakat di Kota Tarakan kal-tim. TKS

  30. Togar Silaban

    @Dear Tifa

    Kalau pendanaan, saya kira Pemda Kaltim dan Kota Tarakan bisa diminta bantuan. Bukankah Pemda Kaltim dan Kabupaten/Kota disana cukup mampu. Setau saya pendidikan dan kesehatan sudah gratis di Kaltim. Mestinya untuk persampahan, juga bisa diminta bantuan dana dari APBD. Ajukan proposal kepada pak Walikota/Bupati.

    Kalau memang diperlukan, ada banyak SDM dari Surabaya yang bisa diundang ke Tarakan untuk membantu menjelaskan berbagai hal tentang Takakura dan komposting.

    Selamat bekerja.

  31. tifa

    dear opung
    makasih atas jawaban dan sarannya, kalo seumpama ada seminar atau kegiatan tetang metode Takakura, undang- undang dong opung, biar bisa tambah ilmu dan tukar pengalaman dengan daerah liannya di indonesia. tks

  32. Zulfia

    Saya belajar mengolah sampah melalu metode keranjang takakura opung. Yang pertama berhasil. Yang kedua kok banyak belatungnya? Bagaimana cara mengantisipasinya?
    Terima kasih

  33. Togar Silaban

    Kalau timbul belatung, berarti jenis bakterinya berbeda dari bakteri yang digunakan pada Metoda Takakura. Kalau menggunakan “starter kit” yang dari Pusdakota, mudah-mudahan tidak ada belatung. Kalau anda bikin keranjang Takakura sendiri dan membiakkan bakteri sendiri, maka kemungkinan ada belatungnya.

    Supaya tidak ada belatung, ada dua cara yaitu pertama, gunakan “starter kit” yang orisinil. Kalau mau bikin starter kit sendiri, pastikan bahwa bakteri yang dibiakkan sama dengan yang digunakan pada starter kit orisinil.

    Masih kurang jelas juga, hubungi Pusdakota, seperti alamat diatas (www.pusdakota.org)

  34. zulfia

    Kalau di Bogor cara mendapatkan starter kitnya bagaimana?

  35. roels

    selain takakura ada lagi ga! pengelolaan sampah yang lainnya?

  36. roels

    Maksudnya untuk kota Surabaya kali aja bisa ditiru alias diterapkan didaerah di luar kota Surabaya.

  37. lee

    Mengenai Takakura Susun Method, saya telah membaca buku terbitan Pusdakota dan dikatakan untuk metode Susun dibutuhkan mikroorganisme padat, sedangkan yang dijual di pasaran hanyalah mikroorganisme berbentuk cairan. Di mana saya bisa mendapatkan mikroorganisme padat ini? (Saya telah menanyakan ke Pusdakota dan mereka tidak menjual ataupun tahu tempat penjualan mikroorganisme jenis ini)
    Terima kasih sebelumnya!

  38. Zemmil

    Pagi opung
    Dari dulu Saya sangat tertarik dg pengelolaan sampah metode takakura ini. Tapi sehubungan waktu itu saya masih berstatus pelajar, jd saya lebih menfokuskan untuk belajar trlebih dahulu. Saya berasal dari Kamal, kota kecil di P. Madura. Tapi saya mencari ilmu di Sidoarjo, saya tinggal di asrama di sana.
    Sekarng, stelah kembali ke kampung halaman, saya merasa prihatin sekali dg keadaan sampah di sekitar saya.
    Akhirnya saya ingat dg Takakura, jd saya cari informasi tentangnya yg akhirnya sampai d blog ini.
    Saya sngt senang sekali dg infosmasi yg telah ada, tapi ada yang mengganjal di hati saya. Saya tidak menyangka, ternyata untuk mendapatkan Takakura masih diperlukan biaya yg cukup besar menurut saya, mengingat saya berasal dari keluarga yg kurang mampu.
    Harapan saya menjadi pupus setelah tahu tentang ini.
    Ternyata untuk mengelola lingkungan hidup cukup mahal juga ya…?!
    Apa hanya orang2 berduit saja yg bisa mewujudkannya?…
    Saya harap pemerintah mau berbelas kasih kepada masyarakat ekonomi ke bawah.

  39. Togar Silaban

    Mohon maaf, kalau saya agak telat merespon. Ingatnya sudah dari rumah pake speedy dan IE, tapi kok tidak masuk ya.

    @Zulfia:
    Starter kit di Bogor saya tidak tau ada apa tidak. Saya menyarankan cari starter kit yang original dari Pusdakota.
    Ibu Djamaludin di Cinere mengembangkan juga metoda Takakura, mungkin bisa kontak beliau, karena lebih dekat ke Bogor.

    @roels:
    Tentu saja banyak metoda pengolahan dan pengelolaan selain metoda Takakura. Sebenarnya pengelolaan sampah kan sudah seumur kehidupan manusia. Hanya saja persoalannya tambah hari tambah kompleks. Karena itu perlu cara-cara cerdas untuk mengatasinya, termasuk Metoda Takakura.

    @Lee:
    Takakura susun method dikembangkan oleh Mr. Takakura dengan Pusdakota. Saya kira bakteri padat tidak diperjual belikan di pasaran. Mikroorganisma cairan yang diperjual belikan itu sejenis EM4 dan variannya. Setahu saya Bakeri Takakura tidak diperjual belikan. Apakah anda sudah konsultasi langsung ke Pusdakota untuk mendalami Takakura Susun Method ??.

    @Zemmil:
    Saya kira keranjang Sistim Takakura senilai 100 ribu an, agak relatif murah apalagi dibanding manfaat yang bisa diperoleh. Bahan keranjangnya sendiri sudah hampir 60-70 ribuan di pasar. Belum lagi bahan- starter kitnya. Padahal Keranjang itu bisa dimanfaatkan untuk rumah tangga selama hampir bertahun-tahun, sampai keranjangnya rusak dan hancur. Kompos yang dihasilkan bisa dimanfaatkan.

    Mengelola lingkungan memang tidak gratis. Tapi kalau tidak dikelola akan lebih mahal ongkos yang harus ditanggung. Kalau anda berminat mengembangkan Metoda Takakura di Madura, tidak ada salahnya mampir ke Pusdakota, Surabaya, supaya dapat informasi yang lengkap.

  40. ilyas tarigan

    salam kenal,tulang.Saya Ilyas Tarigan dari Medan,meski terlambat dapat info tentang keranjang Takakura ini namun saya merasa bersukur dapat tambahan pengetahuan tentang pengelolaan sampah ini.Saya mohon bantuan tulang , bagaimana caranya kita untuk mendapatkan starterkit nya.Apakah bisa kita perolrh dari Surabaya atau mungkin sudah ada diMedan.Saya sangat berterima kasih bila tulang berkenan memberikan informasi meleui e mail saya ini atau lwt Hp 08163127450.Terima kasih.

  41. Togar Silaban

    @ Ilyas Tarigan
    Keranjang Takakura sudah diperkenalkan di Medan. Teman-teman Pusdakota Surabaya sudah pernah melakukan workshop setidaknya 3 kali selama 3 bulan, secara intermitant. Sudah ada beberapa orang yang dilatih. Saya masih cari alamat orang-orang yang dilatih itu.
    Dinas Kebersihan Kota Medan sudah tau alamat orang-orang yang dilatih itu. Beberapa waktu lalu Kepala Dinas Kebersihan dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup berkunjung ke Surabaya, mempelajari “community based solid waste management”, dan mereka sudah mendapatkan kader-kader yang sudah dilatih oleh personil Pusdakota Surabaya. Sambil saya mencari alamat kader yang di Medan, coba juga hubungi Dinas Kebersihan Pemko Medan atau Dinas Lingkungan Hidup Pemko Medan.

    Terimakasih.



Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>





Togar Arifin Silaban

Keep Our Cities Sustainable