900 juta US Dollar hilang di sektor pariwisata akibat sanitasi buruk di Asia
Posted : November 20th, 2007 by Togar Silaban and 303 Views so far.
Citynet dan ADB bekerjasama menyelenggarakan seminar internasional dibidang sanitasi dengan fokus utama pada air limbah perkotaan. Beberapa perwakilan kota Asia ikut menghadiri seminar 2 hari tersebut yang diselenggarakan di kantor pusat ADB di kota Mandaluyong, Manila (Metro Manila terdiri dari 16 kota). Secara umum kota-kota di negara berkembang di Asia masih menggunakan sistim sanitasi yang sederhana dan tidak mampu mengantisipasi tuntutan perkembangan sebagai kota yang sehat. Dari seminar dua hari itu, terungkap bahwa kerugian ekonomis dibidang pariwisata akibat sanitasi yang buruk sudah mencapai 900 juta dollar.
Seminar mengidentifikasi beberapa permasalahan sanitasi secara umum di kota-kota negara berkembang di Asia. Pada umumnya cakupan pelayanan sanitasi kota-kota negara berkembang masih sangat rendah dan tergantung pada sistem setempat (on-site) berupa septik tank. Sebagai contoh, cakupan pelayanan Metro Manila baru mencapai 10 % dengan sistem sanitasi terpusat dengan perpipaan, sisanya masih menggunakan septik tank. Beberapa kota bahkan belum mempunyai lembaga yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan sanitasi dan air limbah perkotaan.
Isu-isu yang dikemukakan antara lain bahwa sanitasi yang buruk selain mengakibatkan kerugian karena penyakit menular, juga telah mengakibatkan kerugian ekonomi yang nyata untuk kota-kota di Asia. Menurut ADB, dari bidang pariwisata saja diperkirakan terjadi kerugian ekonomis sebesar US $ 900 juta akibat berkurangnya kunjungan wisata pada kota-kota yang sanitasinya buruk. Bila kota-kota di Asia menunda untuk melakukan pembangunan sanitasi perkotaan, maka ongkos yang harus dibayar akan menjadi lebih besar. Hal ini selain karena semakin sulit menyiapkan lahan untuk lokasi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) juga karena tingkat kerugian yang sudah sangat besar.
Kerugian sebesar 900 juta dollar tentulah bukan angka yang kecil. Kalau saja kerugian itu bisa dihindari dan digunakan untuk program-program pembangunan perkotaan, maka hasilnya akan sangat luar biasa. Katakan saja untuk membangun gedung sekolah, berapa banyak ruang sekolah yang bisa terbangun dengan uang sejumlah 900 juta dollar (kurang lebih 8 trilliun rupiah). Meski semua menyadari besarnya tingkat kerugian ini, akan tetapi tampaknya banyak pihak masih belum dapat merumuskan langkah-langkah konkrit dengan kegiatan-kegiatan yang jelas.





Luar biasa.. mungkin itu yg bisa saya ucapkan untuk tulisan2 Anda.
namun sedikit menambahkan 900 juta dollar itukan hanya perhitungan diatas kertas saja
Btw its Great Post
Ya, angka itu sumbernya dari presentasi Amy Leung, Senior Specialist dari ADB. Ms. Leung tidak merinci angka itu, dan bagaimana mendapatkannya. Informasinya lengkapnya bisa didapat di www.adb.org/water
Trims untuk informasinya, Keep Great Posting
Kind Regards
Tulisan yang sangat menarik.
untuk mengatasi masalah sanitasi perkotaan sangat perlu dilaksanakan pengintegrasian beberapa program pembangunan kota.
mungkin dimulai dari pengubahan persepsi para pengambil keputusan di Pemerintah
Great Post..
sepertinya sanitasi memang belum mjd isu yg menarik buat pemerintah kota untuk diperhatika ya bapak… lalu ada informasi tidak, tentang berapa seharusnya biaya anggaran untuk sanitasi perkotaan yg baik, perorang/pertahun, dari info di seminar tsb? kalau tidak salah, di negara kita, masih
Supaya menjadi prioritas dalam pemerintah kota, maka sanitasi harus menjadi prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Masalahnya RPJMD adalah dokumen perencanaan yang merupakan penjabaran visi-misi walikota pada waktu kampanye. Kalau sanitasi tidak masuk dalam isu kampanye CALON walikota, maka sulit untuk menjadi prioritas dalam RPJMD.
Karena itu masyarakat harus menyuarakan sanitasi pada waktu kampanye pemilihan walikota, supaya menjadi prioritas pada RPJMD. Jadi perlu ada dukungan masyarakat secara signifikan untuk meminta sanitasi perkotaan yang baik. Berbagai pihak termsuk Perguruan tinggi, LSM dan pihak lainnya perlu menjelaskan hal ini kepada masyarakat. Supaya masyarakat tau bagaimana harus meminta kepada CALON Walikota ketika kampanye Pilkada.
Harga sanitasi perkotaan, sangat tergantung pada kondisi kota dan teknologi yang akan dipakai. Biasanya kemudian, sebelum memilih teknologi, harus melihat kemampuan pembiayaan. Kalau pembiayaannya hanya mengandalkan APBD, maka hampir dipastikan sulit mendapatkan sistim sanitasi perkotaan yang baik untuk skala kota.
Ya begitulah adanya.