Kapal BBM Karam, Ancam Cemari Perak
Posted : December 19th, 2007 by Togar Silaban and 231 Views so far.
JawaPos, Rabu, 19 Des 2007,
Bawa Minyak 500 Kiloliter
SURABAYA - Dermaga Mirah Tanjung Perak, Surabaya, terancam pencemaran berat minyak. Penyebabnya, Kapal Motor Tanker MT) Kharisma Selatan yang bermuatan 500 kiloliter BBM kapal atau marine fuel oil (MFO) terbalik di sekitar kolam Dermaga Mirah, Selasa (18/12) pukul 02.45. Hingga berita ini diturunkan, petugas masih sulit mengangkat bangkai kapal milik PT elayaran Pasific Selatan itu.
Menurut Kasi Kesyahbandaran Adpel Tanjung Perak Rocky Suherman, kapal tersebut baru kali pertama melakukan pelayaran dengan tujuan Kumai, Kalimantan Selatan. Menurut dia, kapal tersebut tenggelam diduga akibat alat penyeimbang (stabilisator) kapal tidak berfungsi. “Apalagi, tadi malam (kemarin malam, Red) cuaca memang buruk. Hujan lebat,” ujarnya. Mengutip keterangan nakhoda kapal Jhoni Purwanto, Rocky menyatakan, kapal tersebut tiba-tiba mengalami gangguan teknis ketika hendak mengisi muatan (loading). Ada beberapa peralatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. “Kami masih menyelidiki alat mana yang mengalami gangguan itu,” katanya. Kapal tersebut dioperasikan oleh 11 awak buah kapal (ABK).
Beruntung, semua ABK selamat. Sebab, saat peristiwa terjadi, kebanyakan ABK berada di ruang operator. “Waktu kapal mulai terbalik, mereka bisa cepat melompat menyelamatkan diri,” jelasnya. Akibat terbaliknya kapal tersebut, Dermaga Mirah kini terancam tercemar solar kapal. Insiden itu tidak mengganggu aktivitas bongkar muat dan lalu lintas kapal di Dermaga Mirah. Berdasar pantauan Jawa Pos, kondisi air laut di sekitar Kapal Tanker Kharisma Selatan sudah agak mengental. Warnanya pun terlihat agak keruh keabu-abuan. Diduga, MFO yang diangkut kapal tersebut mulai tumpah. “Itulah yang terus kami antisipasi,” ungkap Rocky. Untuk mengantisipasi pencemaran lebih luas, petugas memasang pelampung di sekeliling kapal. Pelampung tersebut dipasang dengan jarak sekitar tujuh meter dari lokasi kapal yang ini hanya terlihat lambungnya yang berwarna merah muda. “Jadi, kalaupun ada yang tumpah, minyak tidak menyebar,” jelasnya.
Jika pembalikan kapal tidak berhasil, rencananya pengangkatan dilakukan menggunakan crane berukuran raksasa. “Crane tersebut akan kami datangkan. Tapi, kami juga menunggu permintaan PT Pelayaran Pasific Selatan selaku pemilik kapal,” kata Rocky. Dia menuturkan, pihaknya telah melaporkan hal tersebut kepada KNKT. Karena itu, semua hasil penyelidikan kasus terbaliknya kapal tersebut akan dilaporkan kepada KNKT.
Sementara itu, Humas Pertamina UPMS V Eviyanti Rofrida menjelaskan, pihaknya masih merencanakan pengangkatan tersebut. Sementara dirinya melokalisasi kapal terbalik tersebut menggunakan oil boom yang dipasang di sekeliling kapal. “Kami harap, dengan begitu, bisa menahan agar minyak tersebut tidak tumpah,” ujarnya. Bukan hanya itu, beberapa mesin diesel didatangkan untuk mengambil minyak dari dalam tanker kapal. Evi menyatakan pihaknya mengalami kerugian sekitar Rp 2,5 miliar. Itu dengan estimasi satu liter MFO seharga Rp 5 ribu. “Kami tetap berusaha agar kapal sudah bisa dievakuasi besok,” tegasnya. (ded)
Sumber di sini.





Wah Pertamina cuma menghitung kerugian berdasarkan kehilangan minyak. Kerugian yang lebih besar adalah pencemaran laut. Untuk ini Operator PT Pelayaran Pacific Selatan harus bertanggung jawab atas biaya pencemaran yang terjadi. Perusahaan itu juga harus membersihkan pencemaran yang terjadi, sampai pemulihan kondisi dermaga Mirah.
Pihak yang berwenang segera harus mengambil tindakan dengan mengumpulkan bukti-bukti. Jangan sampai bukti-bukti keburu hilang.