Give comment to this article !
email this post
print this post


Peringatan: Tahun 2011 Pulau Jawa akan tenggelam

Category : Environment, Capacity Building, Urban Development
Posted : January 8th, 2008 by Togar Silaban and 587 Views so far.

Peringatan ini bukan ancaman, tapi untuk meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi langkah-langkah mitigasi dan adaptasi. Kondisi pulau Jawa sudah sangat kritis, bencana banjir yang sedang terjadi hari-hari ini, akan terlulang dengan luasan dan tingkatan yang lebih tinggi di tahun-tahun mendatang. Banjir pada tahun 2011, hampir seluruh pesisir dan dataran rendah pulau Jawa akan tenggelam. Yang terhindar dari banjir nantinya hanyalah dataran tinggi dan bukit-bukit. Banyak indikator ke arah itu yang sudah semakin jelas.

Kondisi pulau Jawa yang kritis dan rawan banjir sesungguhnya sudah terjadi sejak bertahun-tahun yang lampau. Beberapa pakar sudah membuat perkiraan tentang kondisi kritis tersebut dan mereka sudah mengkaji kondisi hutan, pertanian, perkembangan wilayah & kota serta cuaca. Yang mungkin agak kurang dikaji adalah fenomena perubahan iklim akibat pemanasan global. Dari kajian-kajian tersebut diperkirakan bahwa pulau Jawa akan mengalami kekeringan panjang pada musim kemarau dan mengalami banjir pada musim penghujan.

Hutan dalam pengertian yang sesungguhnya, nyaris tidak ada lagi di pulau Jawa, sebab hampir seluruh daerah yang dinyatakan sebagai hutan, sebenarnya sudah berubah fungsi. Hutan yang ada sekarang sebenarnya adalah “hutan-hutanan” dan sudah dieksploitasi guna kepentingan-kepentingan non-hutan, termasuk untuk perkebunan, pertanian, peternakan, pariwisata, permukiman, pengembangan kota & wilayah, dan untuk kepentingan lain. Ekploitasi besar-besaran itu sudah merubah secara drastis fungsi hutan yang menjadi hanya berupa vegetasi penutup kulit bumi. Hutan bukan lagi sebagai penyangga kelestarian ekosistem secara keseluruhan. Perubahan fungsi hutan pulau Jawa terus terjadi dengan kecepatan yang semakin besar. Padahal hutanlah yang berperan besar untuk mencegah terjadinya banjir.

Pengembangan kawasan pertanian dan permukiman penduduk di pulau Jawa pada 10 tahun terakhir ini luar biasa. Selain pertumbuhannya yang sangat cepat, tetapi perubahan fungsi dan pengrusakan ekosistemnya luar biasa cepat. Di desa dan dikota tidak jauh berbeda, semua seolah berlomba merubah ekosistem. Hutan dikonversi menjadi pertanian perkebunan dan permukiman. Konversi yang dilakukan tidak tanggung-tanggung, termasuk dikawasan perbukitan dengan kemiringan lereng sampai 45 derajat.

Di kota tidak kalah hebatnya, semua ruang digunakan untuk kegiatan manusia sehingga hanya sangat sedikit tempat bagi alam untuk menyeimbangkan ekosistem kota. Sudah begitu kebiasaan manusia kota ternyata sangat jauh dari upaya penyelamatan ekosistem. Selain sampah yang menyumbat saluran, sangat banyak kebiasaan manusia kota yang tidak peduli terhadap kelestarian ekosistem dan lingkungan. Hidup warga kota yang boros enerji mengakibatkan tingginya emisi gas rumah kaca (GRK). Emisi GRK mengakibatkan pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim. Kontribusi pemanasan global terutama berasal dari kegiatan manusia di perkotaan.

Faktor yang sangat berpengaruh saat ini adalah perubahan iklim. Akibat dari perubahan iklim, kemarau menjadi sangat kering sementara curah hujan sangat tinggi pada musim hujan, cuaca sangat fluktuatif dan tidak bisa diduga. Akibatnya pada musim kemarau, kekeringan menyebabkan tanah merekah dan daya ikatnya nyaris hilang. Ketika hujan turun, maka terjadi erosi besar-besaran yang mengakibatkan banjir.  Hampir semua sungai di Jawa sekarang ini membawa sedimen yang sangat besar dimusim hujan.

Semua kegiatan manusia di desa mapun di perkotaan pulau Jawa, mengarah pada suatu resultante yang berujung pada semakin luasnya banjir di musim hujan. Pada tahun 2011, saya meyakini seluruh pesisir pantai Utara Jawa dan kawasan dataran rendah akan diterjang banjir yang semakin tahun semakin tinggi. Karena itu tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa tahun 2011 pulau Jawa akan tenggelam. Bahkan, bila upaya menanggulangi tidak memadai, bukan tidak mungkin pada tahun 2010 pun Pulau Jawa sudah tenggelam.


9 Comments to “Peringatan: Tahun 2011 Pulau Jawa akan tenggelam”

  1. tobasa

    Halo Pak Togar, Nampaknya Bapak salah seorang dari ribuan orang Batak yan well educated dan professional di bidangnya.
    Pak, saya mau tanya saja “APA yang sudah Bapak Buat buat Tanah Batak?..
    Tidak ada maksud apa-apa..sekedar mengingatkan saja.
    Dan maaf tidak ada hubungan dengan topik.

    Horas.
    Tobasa

  2. Togar Silaban

    Yth. “Tobasa”
    Terimakasih atas komentar anda.
    Langsung saja, saya memang belum buat apapun untuk tanah Batak. Belum punya kontribusi apa-apa secara langsung terhadap tanah Batak.
    Trimakasih sudah mengingatkan.

    Togar Silaban.

  3. Ronny Siagian

    Biasanya saudara yang merantau meminta saudaranya yang tinggal dikampung untuk merawat orang tua yang ada di kampung.

    Ketika saudara perantau pulang kampung, orang tua dan saudara di kampung diajak jalan-jalan, bersenang-senang, setelah itu kembali ke perantauan. Kembali lagi saudara yang dikampung harus merawat orang tua dengan kondisi ekonomi yang cukup-cukupan, tapi ditambah tugas merawat orang tua.

    Ketika orang tua sakit, saudara perantau langsung telepon saudara di kampung, “tolong ya orang tua kita dirawati”. Kalau saudara perantau mengirimkan duit, mendingan. Tapi karena keadaan ekonomi saudara perantau juga cukup-cukupan jadi tidak bisa kirim duit.

    Mungkin begitulah kondisi kita, sebagai perantau ketika ditanyakan oleh Tobasa “APA yang sudah Bapak Buat buat Tanah Batak?.. Pertanyaan yang keras dan perlu kita renungkan bersama.

    Ronny Siagian

  4. Robert Manurung

    Setelah membaca tulisan Lae, terpikir tiga Plan of Action yang paling mungkin untuk kita lakukan, guna mencegah pulau Jawa tenggelam :

    1. Inisiatif rakyat. Masing-masing berbuat semampunya, misalnya setiap orang menanam sebatang pohon di pekarangan masing-masing atau disumbangkan ke tetangga jika yang bersangkutan tak punya tanah. Sekalian juga masyarakat melakukan pembersihan saluran-saluran air, secara gotong-royong.

    2. Pemilu. Rakyat jangan pilih kandidat bupati, gubernur, presiden dan anggota dewan yang jejak rekamnya sudah nyata-nyata perusak lingkungan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pilihlah kandidat yang tampil dengan program yang feasible untuk menyelamatkan lingkungan.

    3. Perlawanan. Rakyat melakukan demonstrasi di seantero pulau jawa dengan mengajukan tuntutan-tuntutan yang konkret, misalnya merubuhkan bangunan-bangunan villa di pegunungan dan menanam pepohonan disitu. Bisa juga tekanan mob politic diarahkan ke institusi-institusi teknis, misalnya dinas pengairan, kehutanan, dll yang pada intinya memenangkan kepentingan lingkungan atas kepentingan lainnya.

    Di luar itu, apakah namanya seminar atau proyek ini-itu yang sifatnya as usual, percuma.

    Terimalah rasa hormatku atas upaya yang lae lakukan melalui tulisan ini. Penyadaran mengenai masalah lingkungan memang sudah harus dengan cara mengingatkan potential danger. Itupun mungkin saja dicuekin. Lanjut lae.

    Horas
    RM
    http://ayomerdeka.wordpress.com/

  5. Togar Silaban

    Kekeliruan sistemik tentang pengelolaan lingkungan pulau jawa sudah berlangsung lama. Pencegahan banjir yang ada sekarang dan dalam 3-5 tahun mendatang belum cukup untuk membendung banjir yang bakal datang.
    Kita masing-masing harus siap-siap menghadapinya dengan upaya masing-masing. Sistem negara saja belum cukup, tiap individu harus komit melakukan sesuatu.

    Setelah pulau Jawa, maka giliran berikutnya adalah Sumatera dan Kalimantan. Karena itu pelajaran “kesalahan” dari pulau Jawa jangan sampai terulang di Sumatera.

    Tapi hiruk-pikuk Pilkada sekarang ini lebih menarik perhatian orang katimbang penyelamatan lingkungan. Bencana malah dipakai untuk area kampanye.

    Saya masih percaya, cara yang santun dan beradab lebih berhasil. Cara bar-bar (maaf), dalam jangka panjang bisa merusak nilai-nilai kemanusiaan kita.

  6. uMy

    pulau jawa memang sudah seharusnya dan lebih baik tenggelam. pulau ini udah terlalu rusak. bobrok. terlalu padat untuk ukuran pulau sekecil ini. bayangin, kalo aku jadi pulau jawa pasti aku bakal nggak tahan banget menahan beban ratusan juta orang dengan bobotku yang kering kerempeng begini. apalagi orang2 itu nggak bertanggung jawab dan nggak punya rasa terima kasih sama sekali, mereka malah ngerusak aku dan memeras sumberdayaku habis-habisan. aku pasti nangis, dan nangisku bakalan jadi banjir. bakal menenggelamkan mereka semua. dan itu lebih baik biar mereka semua sadar bahwa mereka nggak bisa berlaku seenaknya aja.

  7. Angki

    Saya mengucapkan terima kasih atas peringatan yang Pak Togar tulis. Mungkin ini adalah peringatan bagi rakyat Jawa agar tidak serakah dan juga sebagai pengingat kepada rakyat Batak dan rakyat Indonesia lainnya. :cry:

  8. hh

    Sdr. Tobasa, tulisan ada kalanya kontribusi serara tidak langsung lebih besar manfaatnya dari kontribusi secara langsung. Misalnya, tulisan ini telah mendorong sdr. Robert Manurung untuk mengusulkan tiga hal penting

  9. yunus

    Seandainya Pulau Jawa tenggelam, betapa sudah jatuh tertimpa tangga pula.Rakyat kita yg sdh miskin dan menderita masih harus mati tenggelam “bhs jawa -nya GLAGEPAN” oleh ganasnya sang air laut.Alam semakin murka karena banyak manusia-2 di Republik Indonesia ini yang serakah,manipulasi,kolusi dan korupsi.Nasib….Nasib…awak dadi katut apes diadili sama Alam.



Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>





Togar Arifin Silaban

Keep Our Cities Sustainable