Family

Permeisuri:
Maya Situmeang
Lahir dan bertumbuh di Jakarta, Maya Situmeang, putri dari Bp. St. Drs. E.B. Situmeang dan S. boru Simanjuntak adalah tipikal warga metropolitan. Menghabiskan masa remajanya dikawasan Blok M Jakarta Selatan, Maya menjadi gadis ibukota yang enerjik, dan supel. Semasa sekolah di SMA Tarakanita, Maya pernah menjadi mayoret grup drumband disekolahnya. Dikawasan tempat tinggalnya di Flat “Rurni” Iskandarsjah ketika itu (disebelah Hotel Ambhara sekarang), Maya dikenal sebagai remaja yang ceria dan punya selera humor yang tinggi.
Setelah SMA, Maya melanjutkan pendidikan disekitar Blok M juga yaitu ke Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) di Jalan Purnawarman, Kebayoran. Di STAN, dengan mahasiswa yang berasal dari hampir seluruh Indonesia, ia dikenal luas dan disenangi teman-temannya (cantik, gimana gak jadi favorit.. .. ehm..). Di STAN Maya punya sobat kentalnya Sonya dan Meilina yang selalu ingat akan hari-hari penting meski sekarang sudah berjauhan.
Sesuai “aturan main” di STAN, begitu selesai tahun ketiga, Maya langsung ditugaskan di BPKP Bandung. Untuk pertamakalinya ia jauh dari orang tua dan menjadi “anak kos” di kota kembang. Tidak lama bermukim di kota ini Maya bertemu Togar Silaban, yang kemudian jadi suaminya. Dengan masa pacaran kurang lebih 2 tahun, Maya resmi menjadi istri dan kembali ke Jakarta mengikuti suami. Menjadi ibu dua anak laki-laki, Maya menjadi wanita tercantik di rumah.
Kini ia kami panggil Mama, terutama panggilan akrab dari suami dan anaknya. Sambil bekerja di BPKP Perwakilan Jawa Timur, ia tetaplah Maya yang sama seperti dulu juga. Suka menolong orang, tapi pelit terhadap diri sendiri. Mau beli baju sering harus dua kali ketoko, karena waktu pertama, dia sudah senang, tapi biasanya enggak jadi beli karena takut mahal. Setelah pulang ke rumah, mimpi-mimpi mau beli baju itu lalu besok lusanya ke tokonya lagi mau beli, dan kadang-kadang barangnya sudah tidak ada.
Pengiran
Lama ditunggu kehadirannya, hampir 3 tahun penantian dan dengan upaya yang tidak sedikit, akhirnya Daniel hadir ditengah keluarga. Bagaimana tidak, setelah Maya mengalami keguguran di bulan-bulan pertama pernikahan, kehamilan berikutnya seolah tidak muncul. Setelah lebih dari dua tahun berusaha, konsultasi ke beberapa dokter ahli kandungan, barulah setelah ke Dr. Harun ada kemajuan, dan kehamilan. Kemudian Daniel lahir 15 Januari 1992, ditengah penerbangan bapaknya ke Canada, antara Amsterdam-Toronto. Usia 6 bulan Daniel ikut bapaknya ke Winnipeg Canada mendampingi bapaknya sekolah. Di gereja Epiphany Lutheran Church, Dalhousie Drive, Winnipeg, Daniel dibaptis oleh pendeta Leon Linquist.
Semasa balita, Daniel sering sakit, dan punya alergi terhadap banyak makanan termasuk susu. Syukur setelah hampir berumur 8 tahun sudah semakin kuat dan jarang sakit.
Setelah selesai dari SMP Katolik Santa Clara, Jalan Ngagel Madya Surabaya, tahun 2007 Daniel meneruskan ke SMA Katolik St. Louis Surabaya. Go.. ahead…
Daniel mulai bikin blog, karena itu dia bisa dikunjungi disini
Adek begitu dia sering kami panggil, punya bakat yang baik, sayang dia sendiri belum sungguh-sungguh mengasah bakatnya supaya tampil kinclong. Main piano misalnya, dia bisa main lagu-lagu yang sudah pernah didengarnya. Tapi untuk menguasai secara mantap tentu dibutuhkan latihan yang cukup banyak. Nah disitulah biasanya dia gampang menyerah, jadinya mainnya ya sepotong-sepotong saja. Waktu SD dia menjadi peniup trompet grup drumbandnya sejak kelas IV sampai kelas VI, tiga tahun tuh. Tapi sekarang trompetnya dirumah nyaris tidak pernah dipegang lagi.
Dennis, sangat perhatian sama mamanya, tapi juga sering bersandiwara dibalik mamanya. Ah.. biasalah… gampang bilang ya, tapi enggak dikerjain juga. Namanya Dennis….ya enggak, keep waiting.
Sebagai siswa kelas IX SMP Santa Clara, Jalan Ngagel Madya Surabaya, Dennis bisa jadi apa saja. Lebarkan sayapmu, terbanglah setinggi bintang, semua ada di depanmu ….
Raih masa depanmu sekarang.. not tomorrow!!, work hard, study hard..
Hai Dennis, be the most important person in the world…..”


